Krisis Afghanistan

            Tujuh tahun telah berlalu sejak Amerika Serikat memimpin intervensi di Afghanistan, namun hingga saat ini negara itu masih terlibat perang melawan kaum ekstrimis dan beberapa institusi perlawanan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menghentikan krisis ini, mulai dari pernyataan kemenangan dan penarikan sebagian pasukan, negosiasi dengan para insurgensi, melaksanakan konferensi regional, hingga memprioritaskan hubungan dengan para individu dan sekutu ‘utama’ dalam pembentukan institusi demokratis yang kuat. Namun semua usaha itu belum membuahkan hasil.

            Situasi kemanan di Afghanistan terus memburuk beberapa tahun belakangan ini. PBB menyatakan bahwa sekitar 2100 penduduk sipil tewas pada tahun 2008, jumlah ini mengalami keniakan hingga 40% dari tahun sebelumnya. Penyebab hal ini dapat ditilik kembali hingga pada periode pasca invasi di tahun 2001, dimana setelah Taliban digulingkan, tentara yang ditempatkan di Afghanistan jauh lebih sedikit dibandingkan yang seharusnya. Berkat ’kesalahpahaman’ bahwa rakyat Afghanistan tidak menerima keberadaan kekuatan asing yang besar, hanya 4500 pasukan yang tinggal di Afghanistan setelah itu, dimana sebenarnya dibutuhkan sekitar 25.000 orang. Kemudian, ’terabaikan’nya sektor yudisial juga membuat aturan-aturan hukum seolah-olah tidak berlaku, yang berujung pada maraknya korupsi, didukung oleh peredaran obat terlarang, dimana Afghanistan memproduksi 82% opium dunia.

            Meskipun Taliban telah digulingkan, kini ’musuh’ yang harus dihadapi adalah para ekstrimis, insurgensi, kosupsi, absennya demokrasi, serta perdagangan obat terlarang. Dan permasalahan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menggunakan kekuatan militer semata. Menambah jumlah pasukan di Afghanistan dikhawatirkan akan berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah insurgensi. Oleh karena itu, penlatihan dan penguatan Tentara Nasional Afghanistan (ANA) sebaiknya menjadi prioritas utama, dan Polisi Nasional Afghanistan (ANP) juga dapat dioptimalisasi untuk ;menghadapi’ para ekstrimis. Selama ini, pembagian tugas yang tidak terlalu jelas dan kurangnya personel dalam tubuh ANA dan ANP juga memegang peranan penting dalam krisis ini. Selain itu, penguatan stabilitas regional juga harus dilakukan, dimana kondisi Afghanistan bergantung pada negara-negara di sekitarnya, seperti Pakistan dan Iran. Dan tujuan utama tentunya adalah pembentukan negara yang memiliki ketahanan yang solid, yang dibangun melalui penguatan norma-noram demokratik. Krisis Afghanistan tidak akan berakhir jika penyelesaian konflik hanya berfokus pada ’pemberantasan’ kelompok teroris seperti Al-Qaeda dan Taliban.

 “berdasarkan analisis atas artikel di www.crisisgroup.org“…

 

Quote hari ini: “tidak ada quote”..

Advertisements

4 thoughts on “Krisis Afghanistan

  1. budikurniawans says:

    menurut saya artikel di atas menggambarkan bahwa dalam menyelesaikan sebuah masalah tidak hanya diperlukan kekuatan senjata, tapi juga pendekatan lain yang berorientasi pada human development. Bahkan, yang lebih baik adalah mengedepankan pendekatan human development ketimbang kekuatan senjata. Saya lihat AS terjebak dalam strateginya sendiri di Afghanistan. Itu mengapa Obama ingin segera menghentikan operasi militernya di Irak dan segera berfokus pada Afghanistan.

    Nice topic Bamby,,^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s