Boys Don’t Cry

Tsamina mina e e..waka waka e e……(terbawa suasana piala dunia)…

Selamat datang para pembaca sekalian, ini postingan kedua bulan ini….saya mulai rajin, dalam seminggu sudah dua postingan yang dihasilkan oleh si pemalas ini..hahaha

Hari ini, di studio 1 Bandung Supermall, seat C7-C8, saya dan Intan menonton film Toy Story 3. Saya sangat suka film animasi, setiap ada film animasi di layar lebar (memang bioskop memiliki layar yang sangat lebar) saya hampir tidak pernah ketinggalan menyaksikannya. Saya masih selalu terkesan dengan bagaimana orang2 itu dapat menciptakan suatu khayalan menjadi kumpulan adegan2 yang terihat begitu menarik, rapi, dan hidup….dan saya tetap berpikir mengapa di negara yang sedang saya tinggali ini hal seperti itu tidak bisa dilakukan?…dimana film animasi yang saya ketahui pernah dibuat adalah ‘Janus Prajurit Luar angkasa’ yang benar2 buruk, sama buruknya dengan film2 dubbing yang ditayangkan di stasiun TV Indosiar, dengan special efek yang sudah dianggap terbaik di Indonesia….saya yakin kalian tau film mana yang saya maksud….ya yang ada raksasa, naga, dan hewan2 legenda yang disajikan dalam poligon kotak-kotak….

Bukan naga kotak-kotak itu yang ingin saya bahas di sini, tetapi kejadian saat menonton Toy Story ini. Di bagian akhir film ini, saya menangis….dimulai saat Buzz dkk mengucapkan perpisahan pada woody……dan mencapai klimaksnya saat Andy memperkenalkan Mainannya satu per satu pada pemilik barunya….air mata saya tidak terbendung…untung bioskop di BSM ini mematikan lampunya saat pertunjukkan berlangsung (semua juga gitu kalee!!!!!), sehiingga tidak ada yang melihat jelas wajah bercucuran air mata saya…hal ini sama seperti saat saya menonton Lion King, Aladin, Hachiko, 1 Litre of Tears, My boss My Hero, dan banayk film lain…ya…saya sering menangis..saya termasuk orang yang mungkin kalian kategorikan sebagai cengeng..hahahahahaha

Saya gampang menangis…saat menonton film2 animasi dari Disney, Pixar, atau Dreamworks, saya mudah memproduksi air mata ini, karena bagian sedih dari film yang sering mereka masukkan….saya juga menangis saat membaca buku karya Yuriko Nisihiyama, saat menonton dorama2 yang bagus, dan saat2 menyentuh lainnya. Banyak orang, bahkan peribahasa mengatakan, Boys Don’t cry……kenapa begitu?..karena laki2 yang menangis akan dianggap lemah, tak berdya, tidak maskulin, dan lain-lain. Tapi jika anda adalah anak h.i universitas padjadjaran yang pernah mengenyam bangku (bukan arti sebenarnya) kelas bu Junita, pasti sudah menyadari bahwa ini adalah konstruksi dan mitos belaka….

saya sendiri menganggap bahwa menangis hanyalah salah satu bentuk pengunkapan ekspresi seseorang…kita tertawa saat bahagia, cemberut saat kesal, membentak saat marah, dan menangis saat sedih. saat saya tertawa, tidak ada maslah dengan itu, apakah saya harus bermasalah dengan menangis? apakah saya dianggap bukan atau kurang ‘laki2’ saat menangis? apakah John Terry, kapten timnas inggris yang menangis saat Chelsea kalah di Final Liga Champions 2008 bukanlah seorang laki2 jantan? It’s up to you to decide

So, jangan kaget jika kalian melihat saya sedang menangis terisak-isak saat menonton sebuah film……

Quote hari ini: ‘Boys don’t cry…..but grown up man does……..’

Blogged with the Flock Browser
Advertisements

One thought on “Boys Don’t Cry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s