False Justification

Kemaren saya bolos ngepost di wordpress, so, i’m gonna make up for it today by posting two article..kebetulan lagi ada bahan juga..hehe

mulai sekarang, bakal ada section baru di supercalifragilisticexpialidocious ini, yaitu “Simple Psychology” ato psikologi sederhana….Saya lumayan tau soal psikologi lho, selain karena banyak baca buku2 soal itu (bukan buku teori kaya yang dipelajarin di universitas sih), saya juga lumayan sering denger keluh kesah dari orang lain…Yups, ganteng2 gini, lumayan banyak orang yang percaya dan nyeritain masalah dan rahasia mereka ke saya lho….dari kegiatan2 itulah saya tau sedikit banyak mengenai sifat, kepribadian, dan pikiran manusia…karena tanpa didasari teori, jadi kamu sangat layak untuk mergaukan kata2 saya ini…tapi, mungkin di akhir setiap artikel, kamu justru akan bergumam “ooh gitu ya…” atau “bener juga sih”..hehehe…Langsungaja kita bahas topik pertama, yaitu “False Justification”

Justifikasi adalah proses pembentukan alasan supaya suatu tindakan ,menjadi benar untuk dilakukan. -kamus besar bahasa saya sendiri-

Contoh dari justifikasi adalah “saya membunuh orang itu, karena dia sedang berusaha merampok saya sambil menodongkan senjata.”.Yup, salah satu bentuk justifikasi yang paling dikenal adalah konsep Self Defense yang dipakai di berbagai bidang. Contoh lainnya adalah, pembakaran ribuan perempuan pada abad pertengahan, karena dianggap sebagai penyihir, keberadaan senjata pemusnah massal yang jadi alasan war on terror. Justifikasi eksternal atau justifikasi yang ditujukan kepada pihak luar ini bisa tepat, bisa juga tidak. tetapi ada satu justifikasi yang akan selalu tidak tepat, yaitu justifikasi yang ditujukan untuk diri kita sendiri.

Saya membagi justifikasi internal ke dalam beberapa kategori:

  1. Justification by argument: Justifikasi ini didasari atas pendapat dan keyakinan kita sendiri. Contoh: Kamu pergi berdua sama seorang cowo yang bukan pacar, tanpa minta izin sama yang bersangkutan. Dalam hati kamu bilang “ga papa ko, cuma jalan doang, ga ngapa2in ini”. Contoh lain, kita mengambil uang dari tabungan orang tua untuk membeli sesuatu tanpa minta izin, terus kita bergumam :Aku cuma pinjem ko, begitu dapet uang jajan minggu depan, aku balikin ke dompetnya mama”
  2. Justification by condition: justifikasi ini dibentuk oleh pemahaman kita, bahwa kita ada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Example: “ga papalah beli CD bajakan/download, abisnya yang original mahal banget, susah dicari lagi”. Atau “aduh, ga papa deh tugas kali ini copas, cape banget nih baru nyampe dari Jakarta”.
  3. Justification by comparison: justifikasi ini digunakan saat kita memanfaatkan hal yang lebih buruk sebagai pembanding. Contoh: “Ga papa kan ya gw (cewe) nginep di kosan dia (cowo), ga ML ini”. yang lain, “ga papa kan ya Mabok, ga pake narkoba ini, ga akan sakau”
  4. Justification by good deeds: justifikasi ini bergantung pada perbuatan baik yang akan kita lakukan. Cotoh: “ga papa deh malem ini ga sholat, besok mulai sholat lagi ko, yang penting kan niatnya”. “Ga papa ko masuk kulaih..yang penting ntar bisa jawab pas ujian”
  5. Justification by secrecy: ini contoh justifikasi spesial, yang paling sering saya liat, yang memanfaatkan kata2 sakti, “tapi jangan bilang siapa2”. Saya udah jadi saksi dimana orang cerita ke satu orang mengenai rahasianya, dan ditutup dengan kalimat “tapi jangn bilang siapa2 ya”. Celakanya, orang yang diceritain tersebut merasa bahwa mereka bisa melakukan hal yang sama, dan menganggap bahwa tidak apa2 mereka menceritakan rahasia tersebut ke orang yang mereka percayai, asal mereka tidak lupa menutupnya dengan frase “tapi jangan bilang siapa2″…sayangnya, hampir semua orang berpikiran demikian. Lalu muncullah justifikasi ini, :ga papa kan ya gw ceritain ke dia, toh dia ga akan bilang siapa2”..and so on….

Jadi apakah kalian telah melakukan tindakan yang benar dengan menambahkan justifikasi yang kalian rasa tepat dalam berbagai tindakan kalian?…NO!…Disaat kalian mulai mencari justifikasi tindakan kalian, itu telah membuktikan bahwa kalian telah melakukan kesalahan, apapun hasil justifikasi yang akan kalan kemukakan, betapa pun realistisnya justifikasi tersebut. Jika tindakan yang kalian lakukan memang benar, maka tidak diperlukan adanya justifikasi untuk hal tersebut. Pencarian justifikasi ini merupakan reaksi logis otak, atas aksi penolakan yang dilakukan oleh perasaan. Saat kita mengandalkan emosi dalam membuat keputusan,maka kita akan memerintahkan otak untuk memformulasikan penjelasan atau alasan logis atas keputusan tersebut. Disinilah terjadi apa yang saya sebut false justification…justifikasi yang salah….Sebagian besar kasus di atas adalah kasus yang bener2 terjadi sama orang2 di sekitar saya, bahkan terjadi pada saya sendiri.  yang patut diperhatikan adalah false justification ini hampir selalu berhasil memberikan ketenangan pada orang yang melakukan kesalahan tersebut, karena kita lebih percaya pada analisis yang kita ciptakan dibandingkan penyebab timbulnya analisis tersebut….jadi, kalo kalian berhasil menerima justifikasi yang kalian ciptakan untuk diri sendiri, itu membuktikan kalo kalian telah melakukan kesalahan…quite ironic…

Quote kali ini (bukan quote hari ini, karena quote hari ini udah ditulis di bawah kan..): “You can lie to anybody……but yourself”

Advertisements

2 thoughts on “False Justification

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s