Capitalism

We meet again in another international relations theory post…quite a long absence we got here..hehehe..and for today’s topic it’ll be CAPITALISM!!yeaaaayyyy

Indonesia mode: On

Saya adalah salah satu dari sekian banyak penggemar kapitalisme, yang berada di negeri yang mayoritas penduduknya justru membenci konsep brilian ini. Saya cukup kesal saat hampir di semua demo yang dilakukan oleh mahasiswa, buruh, petani, atau kelompok2 lainnya, jika berkaitan dengan ekonomi, akan selalu ada poster atau spanduk yang bertuliskan “hapuskan kapitalisme” “tolak kampitalisme” “bunuh kaum kapoitalis” (ee, ini ada ga ya?) dan banyak penolakan2 terhadap kapitalisme lainnya, dan juga penolakan atas liberalisme, yang masih berkaitan dengannya. Mereka berkata seperti itu, tanpa mengetahui apa itu kapitalisme yang sebenarnya. Bagi mereka, kapitalisme adalah metode yang digunakan oleh kaum pemilik modal untuk menekan, memeras, dan melakukan hal2 negatif lain kepada the so called “rakyat kecil”. Benarkah seperti itu?…well, i’m here to straighten it up.

Setiap masyarakat memiliki caranya sendiri dalam mengatur atau mengorganisasikan kehidupan materialnya. Mereka akan memproduksi barang2 yang mereka butuhkan, untuk kemudian mendistribusikannya ke seluruh bagian masyarakat untuk dikonsumsi. Hal ini disebut sebagai formasi sosial (social formations).

Ada berbagai formasi sosial di dunia ini, seperti kapitalisme, feodalisme, komunisme, dan lain2..yang membedakan antara satu dan lainnya adalah bagaimana ceara mereka mengorganisasikan kelebihan produksi mereka, atau yang disebut surplus sosial. Surplus sosial ini akan selalu ada saat suatu masyarakat berhasil memproduksi barang lebih banyak dari yang dibuthkan untuk memenuhi standar kehidupan masyarakat tersebut.

Secara sederhana, Kapitalisme, adalah formasi sosial yang merubah atau memanfaatkan surplus sosial tersebut sebagai modal, untuk menghasilkan surplus berikutnya. Tak ada yang salah dengan itu kan? Karena itu, konsep ‘modal’ adalah jantung bagi kapitalisme.

Modal adalah segala sesuatu yang dapat menghasilkan komoditas, atau setidaknya uang. Sistem kapitalisme yang berbasis modal ini mulai berkembang pada abad 15 di Eropa, menggantikan sistem feodal yang berpusat pada kekayaan (wealth).

Untuk memberikan gambaran mengenai perbedaan antar kekayaan dan modal, mari kita baca ilustrasi berikut. Di mesir kuno, saat masyarakat memiliki surplus sosial, mereka membangun piramid, sphinx, dan bangunan2 megah lainnya. Pada kekaisaran Roma, surplus sosial digunakan untuk mendirikan patung2 raksasa, kolam renang, dan lain2, sedangkan pada abad pertengahan, surplus yang ada digunakan untuk membangun kastil, katedral, dan melukis gerja2 dengan lukisan yang indah. Semua ini adalh kekayaan, karena tidak menghasilkan apapun, bahkan bangunan2 ini bisa dianggap sebagai beban, karena membutuhkan biaya perawatan, dan orang2 yang membangunnya sebenarnya bisa bekerja di sektor lain yang lebih menghasilkan, seperti pertanian.

Lalu bagaimana dengan kapitalisme, Di Inggris pada masa2 revolusi industri misalnya, saat masyarakat memperoleh surplus sosial, maka mereka akan memilih untuk mendirikan pabrik pakaian misalnya. Pabrik pakaian ini adalah modal, karena akan menghasilkan komiditas yang diperlukan oleh masyarakat dan masyarakat akan membayar untuk memperoleh komoditas tersebut. Sebagai modal, pabrik ini akan menghasilkan surplus sosial yang lebih banyak, yang kemudian berubah menjadi pabrik sepatu misalnya. Begitu seterusnya, hingga entah sampai kapan. Itulah inti dari kapitalisme, “merubah surplus sosial menjadi modal, untuk menghasilkan surplus yang lebih banyak, yang akan menjadi modal lainnya.” You get the picture right??

sedikit refreshment untuk tulisan2 di atas

Lalu bagaimana dengan di Indonesia ini? benarkan Kapitalisme merupakan instrumen para pemilik modal untuk memeras rakyat kecil? benarkah sistem ini tidak berpihak pada mereka? Absolutely wrong. Menurut saya, justru Indonesia adalah negara yang sangat pandai dalam menggerakkan kapitalisme, dan the so called ‘rakyat kecil’ justru orang2 yang sangat lihai di dalamnya.

Untuk awalan, mari kita lihat contoh kapitalisme umum di Indonesia. saya akan ambil Trans corp sebagai ilustrasi. Saat trans TV berhasil mencetak surplus sosial yang cukup besar, mereka tidak lantas mendirikan Patung Chaerul Tanjung yang akan menjadi kekayaan, tetapi mereka memutuskan untuk membeli TV 7 dan mengambil alih manajemennya, sehingga menjadi modal. Dengan surplus sosial yang didapat dari dua televisi ini, mereka tidak membeli 10 pesawat pribadi, tetapi hanya membeli 1, dan mendirikan trans studio Makasar. Surplus yang dihasilkan ketiga modal tersebut, selain kemudian berubah menjadi Trans Sudio Bandung, dan Trans Hotel, dimana surplus sosial yang didapat sudah direncanakan untuk membangun Trans studio Jakarta. This is Capitalism. Ada unsur memeras rakyat kecil di dalamnya? Not at all…

Kemudian, ada banyaaaaaaak sekali kapitalisme skala kecil yang dilakukan oleh masyarakat d negeri ini. yang pertama adalah Ojek. Motor tukang ojek, jika digunakan sehari2, adalah kekayaan, karena tidak menghasilkan apa2, malah mereka harus mengeluarkan biaya untuk service dan mengisi bahan bakar. oleh karena itu mereka mengubahnya menjadi ojek, yang dapat membawa penumpang ke tujuan tertentu, dengan tarif yang suka seenaknya….

Selanjutnya adalah WC umum…di negara kapitalis seperti Amerika, saya lihat orang tidak dipungut biaya untuk buang air, tetapi rakyat indonesia begitu lihai untuk mengubahnya menjadi modal, dan mengambil untung dari keadaan terdesak seseorang. Trotoar adalah jalur bagi pejalan kaki. tetapi lagi2 para tukang parkir liar biasa dengan cakapnya merubahnya menjadi lahan parkir, yang tentu saja menjadi modal bagi mereka. Kawasan Three in One, bagi orang2 biasa adalah suatu kawasan yang merepotkan, tetapi para joki bisa memanfaatkannya sebagi modal, dengan menjajakan jasa mereka..sangat cerdas bukan? Orang2 inilah yang justru membuat nama kapitalisme menjadi jelek menurut saya.

So, sebagai penggemar berat kapitalisme, saya berharap penjelasan singkat ini bisa merubah pandangan kalian…Long Live Capital!!!!!

 

Quote hari ini: ” Wall Street people learn nothing and forget everything”
– Benjamin Graham –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s