Idiosyncracy

2016 has been a tremendous year for comic book fans and international relations students, such as my self. Of course there’s Batman v Superman, Civil War, trailer to many upcoming superhero films, Marvel acquire licensed for cinematic Spiderman, revamped Aquaman portrayed by Jason Momoa, DC Rebirth, aaaand many more.

DC_Rebirth.png

On the realm of International Affairs too, many phenomenon and event took place, some were really unprecedented that i wont believe it if someone told me a few years ago.  Migrant crisis, ebola outbreak, killer clown, west europe terrorism attack, Trump running for president, Putin called his citizen to come back to mother Russia, and the latest twist, Philippines ‘separation’ from US. See, you’re not wake up in the morning, knowing that Philippines said ‘enough with US’ ,  while yesterday you still consider them to be US’ last bastion in Southeast Asia. So why did this happened? *Turn on scholar mode

*Disclaimer: This post is typed without me reading my old text book, and constructed solely on my vague memories of 2006 class, so please do correct me if anything is not to your liking.

Di kelas Pengantar Ilmu Politik, terutama pertemuan minggu kedua, kami diajarkan mengenai level of analysis, yaitu, instrumen dasar, yang harus ditentukan dalam mengkaji ‘seluruh’ fenomena internasional (or global you millenials called it nowadays). Level of analysis  or LoA (for easier typing) bertujuan untuk menspesifikkan analisis, terutama dalam mencari kausalitas dalam suatu kejadian.  LoA terbagi ke dalam tiga level, yaitu Sistem, Negara, dan Individu (Idiosyncratyic) . And i guess explaining through example will be better.

Let’s say you wanna explain the cause behind Brexit. Through the System level, you could say that the euro crisis that struck UK neighboring countries has stained economic cohesion, with a chained effect to other currency (read: pounds). Not to mention the policy on migrant management that is still going at the moment, could prove to be a security threat to UK. Hence, these external factor, looming in the sistem where UK is a part of, create the initiative for Brexit.

If you use the State level, you may find that 58% citizens think UK participation in EU is a waste of resources, invitation for unwanted migrant, a shackle for the empire, and many more. So, in order to calm the public unrest, to create more job opportunities that’s otherwise filled by foreigners, to be able to spend more money on social security and development, UK decided to go full Brexit. See the difference on the internal factors on a state level that influenced the decision?

Now, through an Individual level, we can put it this way: the ‘leader’ of UK just want to exit EU, and that’s that. Brexit happened because he/she wants it, not because EU is dragging them down, or because the people aspired it, but maybe because they’re not a EU fan, they opposed integration, they have bad experience with euro or foreigners, and others personal and psychological reasons. This is what we call idiosyncratic. Of course the usage of Individual level of analysis on Brexit would be unfit, when the queen is not involved in political matters, and Cameron is a Europeanist at that moment.

But the idiosycratic value will best describe our recent Manila – Washington Divorce…..

From the system level, Philippines is still involved in dispute concerning the South China Sea. Following the decision of International Tribunal about Philippines claim, tension arise between the two countries, and Manila does need US back up remembering how China has her own allies in the region.

If we look at the state level, (i’m not too familiar with Philippines domestic situation) i think Philippines hold no grudges agains US. They enjoy the trade, the military cooperation, maybe a little anti US movement here and there, but there are no real threat coming from accros the atlantic.

160906093330-rodrigo-duterte-quote-12-exlarge-169.jpg

When we take a look at Duterte, however, the pieces are starting to assemble. He justa hate USA. we all know from his past remarks on Obama, how US can fu*k off, we don’t need your human rights bullsh*t, and other resentment. See, this s where idiosyncratic  overcome other factors, though sometimes illogical. Duterte leadership just doesnt get along with US principle of freedom and human rights, he has his own ways, and his people support it. He thinks he can lead peacefully without constant pestering from people 10000 km away. And he find comfort in China and Russia embrace, cause, we all know Putin 😀

There, i hope this simple and shallow explanation can give you a general understanding of waht to do when your teacher or boss tell you to find the reason behind a country coup d etat, trade agreement establishment, unlikely truce, and other international phenomenon. I really do have a beautiful composition about this article in my mind, but my measly writing skill turned it into an average post, so i humbly apologize. See you in another blabbering.

-me, the long lost IR student-

Advertisements

POROS MARITIM DUNIA SEBAGAI IMPLEMENTASI CONSTRUCTIVE REALISM

Pendahuluan

Setelah dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia yang ketujuh, Presiden Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi segera menetapkan berbagai rencana dan langkah strategis yang akan dilakukan dalam 5 tahun masa pemerintahannya. Salah satu konsep utama yang berulang kali disebutkan adalah keinginan Jokowi untuk memantapkan status Indonesia sebagai poros maritim dunia (global maritime fulcrum), yang juga menjadi identitas Indonesia di dalam tataran politik internasional. Apa yang mendasari munculnya inisiatif ini? Langkah-langkah apa yang terkandung dalam ide besar ‘poros maritim global’ ini? Kepentingan apa yang ingin diperoleh Indonesia melalui strategi ini? Penulis akan menggunakan sebuah perspektif kontemporer dalam menjawab pertanyaan-pertanyan tersebut, yaitu Constructive Realism.

Revitalisasi Kemaritiman Indonesia

 

Sebelum mengupas lebih dalam mengenai Poros Maritim Global, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan konsep ini. Berdasarkan letak geografis dan sejarah, Indonesia dianggap memiliki potensi maritim yang sangat besar, namun dalam 69 tahun masa kemerdekaannya, belum dapat mengoptimalkan potensi tersebut, dan saat ini, diplomasi diharapkan menjadi instrumen utama dalam merealisasikan hal tersebut. Pada salah satu seminar mengenai ‘Maritime Fulcrum and Foreign Policy’, Wakil Menteri Luar negeri Indonesia, Bapak A.M. Fachir menyatakan bahwa poros maritim dapat dielaborasikan ke dalam lima elemen utama, yaitu:[1]

  • Membangkitkan budaya maritim
  • Membangun infrastruktur maritim
  • Akselerasi pengembangan sumber daya maritim
  • Menjadikan persoalan perbatasan maritim sebagai fokus diplomasi
  • Memperkuat keamanan maritim

Fachir juga menyatakan bahwa konvergensi antara poros maritim dan diplomasi merupakan hal yang krusial agar konsep ini dapat diaplikasikan dengan optimal di semua fora. Tidak hanya menjadikan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik sebagai fokus politik luar negeri, Indonesia juga akan terus beerjasama dengan negara tetangga untuk menyelesaikan permasalahan bperbatasan, melindungi sumber daya laut, dan menjamin keamanan dan keselamatan di perairan Indonesia. Selain itu, sebagai wujud politik bebas aktif, Indonesia juga akan berperan aktif dalam menyusun solusi dalam sengketa Laut China Selatan dan menjaga stabilitas kawasan.[2]

Poros Maritim Dunia Sebagai Perwujudan Constructive Realism

Constructive Realism adalah paradigma hibrida yang merupakan buah pemikiran penulis berdasarkan pengalaman dan kajian selama menjadi mahasiswa Hubungan Internasional, yang juga telah dikemukakan oleh beberapa akademisi lain, seperti Jae Wook Jung dari Sookmyung Women’s University di Korea Selatan. Penulis beranggapan bahwa Constructive Realism merupakan jembatan penghubung antara paradigma realis yang begitu empiris, dengan konstruktivis yang sangat filosofis. Secara garis besar, penulis mendefinisikan constructive realism sebagai ‘pembentukan dan pemanfaatan ide, konsep, dan identitas, untuk meningkatkan power yang dimiliki negara’. Di lain pihak, Jae Wook Jung menjabarkan constructive realism dalam pengertian ‘ide-ide dapat menentukan penggunaan power dalam politik internasional, dan mendukung implementasi teori-teori realis’.[3]

Pemanfaatan ide, konsep dan identitas yang dikonstruksi oleh negara bukanlah hal baru dalam hubungan internasional, seperti kampanye war on terror, one china policy, look to the East, one silk one road, hingga konstruksi-konstruksi yang sifatnya regional, seperti ASEAN, Asia Afrika, G-20, dan masih banyak lagi. Persamaan dari konsep dan identitas diatas adalah membangun persepsi masyarakat internasional melalui klaim atas suatu kawasan, kegiatan, maupun peran yang sebelumnya tidak ada. Hal ini sama seperti klaim Indonesia yang menjadikan dirinya sebagai pusat dari maritim dunia. Berdasarkan lima elemen utama poros maritim yang disebutkan sebelumnya, terlihat adanya usaha Indonesia untuk memperbesar ‘kapasitas’ yang dimilikinya di bidang maritim, baik dari segi hard power maupun soft power.

Dari segi tujuan politis (political objectives) Indonesia ingin kembali membangun awareness masyarakat internasional akan keberadaan dan statusnya sebagai salah satu kekuatan maritim di dunia internasional. Sebagai sebuah poros, Indonesia tidak hanya menunjukkan kapasitas dan posisi strategisnya, hal ini juga digunakan untuk mendukung dan menegaskan poin yang berulang kali disebutkan mengenai ‘kedaulatan’ dan ‘perbatasan’. Tujuan ini sejalan dengan tiga prinsip dasar realisme, yaitu Statism, yang menyatakan bahwa negara adalah aktor utama dalam hubungan internasional, dan kedaulatan menandakan adanya suatu komunitas independen, yang memiliki otoritas yuridis atas suatu wilayah.[4] Selanjutnya survival, dimana tujuan utama setiap negara adalah mempertahankan keberlangsungan hidupnya[5], dimana keberlangsungan ini ditandai dengan kemampuan negara untuk mempertahankan otoritas nya atas suatu wilayah yang telah ditandai dengan batas-batas tertentu. Yang terakhir adalah  adalah self-help, dimana tidak ada institusi atau negara lain yang dapat diandalakan untuk menjamin keberlangsungan negara[6], oleh karena itu, dalam pembentukan identitas posos maritim dunia ini, Indonesia tidak melibatkan negara maupun intitusi lain di dalamnya. Hal yang menarik adalah bahkan prinsip dasar realisme ini telah menunjukan adanya keterkaitan dengan konstruktivisme, dimana konsep ‘negara’ itu sendiri sebenarnya adalah salah satu bentuk konstruksi, seperti apa yang disebut Benedict Anderson sebagai ‘imagined community’[7].  Dengan demikian, pembentukan identitas tidak hanya terjadi dalam level sistemik, tetapi juga dalam level negara, yang keduanya sama-sama bertujuan memperoleh power untuk tujuan yang sama.

Dalam hal ekonomi, pembentukan identitas sebagai poros maritim dunia tertuang dalam dua poin mengenai ‘membangun infrastruktur maritim’ dan ‘akselerasi pegembangan sumber daya maritim’. Pembentukan identitas sebagai poros maritim tidak hanya menunjukkan adanya ekstensifikasi dalam memaksimalkan territorial laut Indonesia, tetapi juga optimalisasi melalui intensifikasi pemanfaatan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, yang selama ini dianggap belum maksimal, dikarenakan identitas Indnesia saat ini yang lebih dikenal sebagai negara agraris. Kembali kita dapat melihat bahwa Indonesia berusaha meningkatkan kapabilitas ekonominya dengan memanfaatkan sumber daya alam laut dan memperbaharui teknologi dan infrastruktur yang berkaitan dengan kemaritiman, dimana hal ini diperoleh dengan membangun identitasnya sebagai negara maritim yang sempat ‘ditinggalkan’. Apa yang dikatakan A.M. Fachir berkaitan dengan ‘kita harus membangun kembali budaya kita, sudah terlalu lama kita memalingkan diri dari laut. Masyarakat harus menyadari dan memahami bahwa identitas, kesejahteraan, dan masa depan kita akan ditentukan oleh seberapa dalam hubungan kita dengan laut. Kita harus bisa mengulang kejayaan nenek moyang kita dahulu”.[8] Pernyataan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat ditentukan dengan identitas Indonesia sebagai negara maritim, yang belum terbangun saat ini. Pernyataan ini sejalan dengan definisi Alexander Wendt mengenai konstruktivisme sebagai ‘pembentukan ide, dan pemahaman serta pengetahuan berdasarkan konteks sosial dan historis[9], dimana hal ini dapat berubah sesuai konteks.

Terakhir dari sisi militer, Indonesia memanfaatkan identitas poros maritim ini sebagai justifikasi untuk meningkatkan kapabilitas militernya, seperti yang tertuang dalam poin ‘memperkuat keamanan maritim’. Dengan statusnya sebagai pusat dan tokoh dominan di perairan, Indonesia dituntut untuk memiliki kapabilitas yang mumpuni untuk menjaga tidak hanya keamanan wilayah perairannya, tetapi juga stabilitas kawasan secara umum. Untuk itu diperlukan adanya instrumen seperti kapal laut yang lebih modern, personil militer yang terlatih, dan perangkat keamanan lainnya. Gestur peningkatan kapabilitas militer sebagai betuk pengamanan wilayah dapat menghindarkan munculnya security dilemma, yang akan timbul jika hanya digunakan untuk mengamankan territorial internal.

Kesimpulan

Poros Maritim Dunia dapat dilihat sebagai konsep, ide, maupun identitas, yang dikonstruksikan oleh Indonesia, dengan tujuan meningkatkan kapabilitas/power Indonesia di berbagai dimensi. Pembentukan identitas ini merupakan perwujudan konkret dari constructive realism, yang akan menentukan political behavior Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri. Namun demikian, ide, konsep dan identitas ini bukanlah sesuatu yang ajeg, dan dapat berubah di masa depan, sesuai dengan kepentingan nasional yang ingin dicapai oleh Indonesia.

[1] A.M. Fachir. “Getting the Concept of Maritime Fulcrum”, dipresentasikan pada Seminar on Maritime and Foreign Policy, 11 Mei 2015.

[2] Ibid.

[3] Jae Wook Jung. 2013. “Making Constructive Realism?”.  The Korean Journal of International Studies, Vol.11. The Korean Association of International Studies. Hal. 1

[4] Tim Dunne dan Brian C. Schimdt, dalam John Baylis, Steve Smith, dan Patricia Owen. 2008. Globalization of World Politics. Oxford University Press. hal.100

[5] Ibid. hal.103

[6] Ibid.

[7] Pembahasan lebih lanjut dapat dilihat di ‘Imagined Communities: Reflection on The Origin and Spread of Nationalism. 2006. Verso

[8] A.M. Fachir. “Getting the Concept of Maritime Fulcrum”, dipresentasikan pada Seminar on Maritime and Foreign Policy, 11 Mei 2015.

[9] Alexander Wendt, “Anarchy Is What States Make of it: The Social Construction of Power Politics, “International Organizations 46-2 (1992), hal. 403-407

The Value

Pertama-tama, izinkan saya mengucapkan rasa belasungkawa saya terhadap seluruh korban jatuhnya helikopter di Gilgit, Pakistan, pada tanggal 8 Mei lalu:

1. Major Altamash, Seorang Pilot helikopter

2. Major Faisal, Seorang pilot lainnya

3. Zakir, seorang kru helikopter

4. Leif Larsen, Duta Besar Norwegia

5. Domingo Lucenario Jr, Duta Besar Filipina

6. Datin Habibah Mahmud, istri dari Duta Besar Malaysia

7. Hery Listiawati, istri dari Duta Besar Indonesia

8. Burhan Muhammad, Duta Besar Indonesia (yang meninggal dunia pada Selasa, 19 Mei 2015, dan baru saja mendapatkan penghormatan terakhirnya di Gedung Pancasila)

As you know seluruh hal di dunia ini adalah sesuatu yang menarik dan bahan pemikiran buat saya, termasuk topik yang ingin saya share kali ini, yaitu ‘nilai kematian seseorang’… Pemikiran ini mulai muncul saat kematian beberapa orang terkenal terjadi, seperti Michael Jackson, Paul Walker, dan Robin Williams (may their souls rest in peace). Beberapa waktu setelah mereka meninggal, jutaan orang mengekspresikan kesedihannya, quote2 semasa hidupnya bermunculan, dan testimoni-testimoni mengenai mereka mengalir tanpa henti.

Beberapa hari kemudian, di 9gag, saya melihat post yang membandingkan dua gambar, disisi kiri adalah Paul Walker, dan di sisi kanan adalah gambar bocah Afrika yang tampak sangat kelaparan, dengan caption “If only we value one’s life the same as the other”..then it struck me…benarkah kita telah memberikan ‘nilai’ pada nyawa seseorang? Benarkah nyawa seseorang lebih berharga dibandingkan yang lainnya?

Hal ini mengingatkan saya pada beberapa contoh, seperti yang (again) saya dapat di 9gag, tahukah anda seminggu setelah meninggalnya Steve Jobs, Dennis Ritchie meninggal? Who’s Dennis Ritchie you say?

Kemudian beberapa waktu yang lalu juga terjadi kecelakaan yng menimpa pesawat komersial Air Asia, yang menimbulkan banyak sekali korban (may their soul rest in peace). Kecelakaan ini mengalami media exposure yang sangat besar. Daftar nama korban diumumkan berkali-kali, image dari keluarga yang sedih karena ditinggalkan menghiasi layar televisi, dan diwawancara oleh banyak pihak…Kemudian saya berpikir, hampir setiap hari, terjadi kecelakaan lalu lintas yang juga menimbulkan korban…tetapi mereka hanya diingat sebagai angka di running text televisi…apakah nyawa mereka yang menggunakan bis lebih tidak bernilai dibandingkan mereka yang terbang menggunakan pesawat? Apakah keluarga yang ditinggalkan oleh korban tabrakan mobil tidak lebih sedih dibandingkan mereka yang ditinggalkan oleh korban jatuhnya pesawat? Apakah ucapan “Have a safe flight” menjadi lebih signifikan dibandingkan dengan “hati-hati di jalan?”

I don’t think so…….beraitan dengan kejadian hari ini (19 Mei 2015), sayasedikit berpikir, apakah dua orang pilot dan seorang kru Pakistan yang juga tewas dalam kecelakaan tersebut mendapat perlakuan yang sama seperti Alm. Duta besar Burhan? Karena saya yakin, keluarga mereka pun mengalami kehilangan dan kesedihan yang sama karena meninggalnya orang yang dicintai….

Kembali ke pemikiran sebelumnya, saya berpendapat bahwa we tend to mourn for someone we know….for example, saat Nenek saya meninggal, dan saya beserta keluarga sedang bersedih, mungkin orang2 yang berada 2 blok dari rumah saya sedang menjalankan aktivitas nya seperti biasa, dan orang-orang di belakang komplek rumah saya mungkin sedang berpesta pora merayakan sesuatu. Apakah itu membuat nyawa nenek saya berbeda dengan orang lain? tentu tidak…apakah orang-orang tu salah karena tidak ikut berduka? sama sekali tidak…..so bukan berarti Steve Jobs memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan Dennis Ritchie, bukan berarti keluarga di Afrika tidak lebih berharga dibandingkan Paul Walker, it’s just happened that we know someone much more than the other.

But that statement still hasn’t covered the Air Asia case, since people don’t know abouth them the same way…..for this particular phenomenon, i still blame media for their construction (as i always do), but i feel bad to keep talking about the deceased, so i’ll see you on another chance.

My deepest condolences, to all family who lost their loved ones tonight.

Portals

image

Greetings mortals….
Just checking my new WordPress app…
It’s fun and scary how we can now post content through our already attention-consuming gadget.

Hopefully this can alter my ‘too lazy to turn on the laptop and write something’ disease.

-Posted form Mizuki, my dearest Xiaomi Rednote-

The Theory of ‘Momentum Generator’

Have you ever heard of the ‘Momentum Generator’ theory? Big chances your answer is no, since it’s the name of a theory i just invented 2 minutes ago. Basically, this theory tries to explained a unique human behavior, where they tend to do something while they’re supposed to do something else.

For example, i was supposed to gather evidence and documents for my paper today, but at 9 PM, just after i turned on Fuka Kyon (my notebook……gosh this sound wrong) suddenly customizing my blog, pick a new theme, design a new widget, and write a new post, seems really appealing. Can you imagine, after all this time (approximately 4 months), the thought of writing a new post is just a little spark running across my cerebral, and it’s decided to turn into a lightning bolt for the sake of bringing my will to finish my assignment.

Another take on this case, when i was packing my stuff a couple of weeks ago, just a few hours before my departure, suddenly an insurmountable urge arise for me to clean ALL my action figures. It’s odd, but it’s true….and i did it…

So, theory of Momentum Generator stated that: “In the process of doing  something important with a narrow time window, there’s a high chance that you ended up doing something else (with no correlation with the main purposes) just for the sake of the moment, instead of necessity or urgency”.

-Bamby, a man who just spent 3 hours of his sleeping time into choosing which design is better for his new blog-

Limbo

7th January 2015

0500 GMT+7

From my Batcave,

Nope, the title got nothing to do with the content of this post. I don’t know what drives me to write a post this early in the morning (aside from the fact that i haven’t sleep at all since last night), but i’m pretty sure if i didn’t start at some point, this blog that i really loved will surely be another trash in a cold, mindless servers, wherever that is. And yeah, if this blog is a girlfriend, i’ve been a jerk this past year for not dating her, or even texting her, and i plead guilty for that. The paradox is, i’ve been going through a lot, and i mean massively a lot of thing last year, but my writing on this electronic diary went the opposite, if i recall correctly, maybe i just hit the publish button three times in 2014, damn, talk about lazyness 😀

Anyway, im not promising anything, but i’ll write as often as i could, some will be a deep thought about human life, philosophy, paradigm, and constructive ideas, some will be a glimpse of my personal life, but the majority will be some random and meaningless shit like i usually wrote all the time,hehehehe

So, for a brief tour of what happen while i was MIA, i’ve worked on a radio station, i’m now collecting batman Figures, i’m not too into K-Pop now, I started to like western music (a bit), i’ve been poisoned by Square Enix Play Arts Kai, I have an instagram, I can check list two more Gundam from my Livewishes list, and many more. I’ll tell you all about it (maybe) when i have the chance. until then, Sayonara.

“Pile up Experience, Not Things” -somebody-