POROS MARITIM DUNIA SEBAGAI IMPLEMENTASI CONSTRUCTIVE REALISM

Pendahuluan

Setelah dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia yang ketujuh, Presiden Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi segera menetapkan berbagai rencana dan langkah strategis yang akan dilakukan dalam 5 tahun masa pemerintahannya. Salah satu konsep utama yang berulang kali disebutkan adalah keinginan Jokowi untuk memantapkan status Indonesia sebagai poros maritim dunia (global maritime fulcrum), yang juga menjadi identitas Indonesia di dalam tataran politik internasional. Apa yang mendasari munculnya inisiatif ini? Langkah-langkah apa yang terkandung dalam ide besar ‘poros maritim global’ ini? Kepentingan apa yang ingin diperoleh Indonesia melalui strategi ini? Penulis akan menggunakan sebuah perspektif kontemporer dalam menjawab pertanyaan-pertanyan tersebut, yaitu Constructive Realism.

Revitalisasi Kemaritiman Indonesia

 

Sebelum mengupas lebih dalam mengenai Poros Maritim Global, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan konsep ini. Berdasarkan letak geografis dan sejarah, Indonesia dianggap memiliki potensi maritim yang sangat besar, namun dalam 69 tahun masa kemerdekaannya, belum dapat mengoptimalkan potensi tersebut, dan saat ini, diplomasi diharapkan menjadi instrumen utama dalam merealisasikan hal tersebut. Pada salah satu seminar mengenai ‘Maritime Fulcrum and Foreign Policy’, Wakil Menteri Luar negeri Indonesia, Bapak A.M. Fachir menyatakan bahwa poros maritim dapat dielaborasikan ke dalam lima elemen utama, yaitu:[1]

  • Membangkitkan budaya maritim
  • Membangun infrastruktur maritim
  • Akselerasi pengembangan sumber daya maritim
  • Menjadikan persoalan perbatasan maritim sebagai fokus diplomasi
  • Memperkuat keamanan maritim

Fachir juga menyatakan bahwa konvergensi antara poros maritim dan diplomasi merupakan hal yang krusial agar konsep ini dapat diaplikasikan dengan optimal di semua fora. Tidak hanya menjadikan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik sebagai fokus politik luar negeri, Indonesia juga akan terus beerjasama dengan negara tetangga untuk menyelesaikan permasalahan bperbatasan, melindungi sumber daya laut, dan menjamin keamanan dan keselamatan di perairan Indonesia. Selain itu, sebagai wujud politik bebas aktif, Indonesia juga akan berperan aktif dalam menyusun solusi dalam sengketa Laut China Selatan dan menjaga stabilitas kawasan.[2]

Poros Maritim Dunia Sebagai Perwujudan Constructive Realism

Constructive Realism adalah paradigma hibrida yang merupakan buah pemikiran penulis berdasarkan pengalaman dan kajian selama menjadi mahasiswa Hubungan Internasional, yang juga telah dikemukakan oleh beberapa akademisi lain, seperti Jae Wook Jung dari Sookmyung Women’s University di Korea Selatan. Penulis beranggapan bahwa Constructive Realism merupakan jembatan penghubung antara paradigma realis yang begitu empiris, dengan konstruktivis yang sangat filosofis. Secara garis besar, penulis mendefinisikan constructive realism sebagai ‘pembentukan dan pemanfaatan ide, konsep, dan identitas, untuk meningkatkan power yang dimiliki negara’. Di lain pihak, Jae Wook Jung menjabarkan constructive realism dalam pengertian ‘ide-ide dapat menentukan penggunaan power dalam politik internasional, dan mendukung implementasi teori-teori realis’.[3]

Pemanfaatan ide, konsep dan identitas yang dikonstruksi oleh negara bukanlah hal baru dalam hubungan internasional, seperti kampanye war on terror, one china policy, look to the East, one silk one road, hingga konstruksi-konstruksi yang sifatnya regional, seperti ASEAN, Asia Afrika, G-20, dan masih banyak lagi. Persamaan dari konsep dan identitas diatas adalah membangun persepsi masyarakat internasional melalui klaim atas suatu kawasan, kegiatan, maupun peran yang sebelumnya tidak ada. Hal ini sama seperti klaim Indonesia yang menjadikan dirinya sebagai pusat dari maritim dunia. Berdasarkan lima elemen utama poros maritim yang disebutkan sebelumnya, terlihat adanya usaha Indonesia untuk memperbesar ‘kapasitas’ yang dimilikinya di bidang maritim, baik dari segi hard power maupun soft power.

Dari segi tujuan politis (political objectives) Indonesia ingin kembali membangun awareness masyarakat internasional akan keberadaan dan statusnya sebagai salah satu kekuatan maritim di dunia internasional. Sebagai sebuah poros, Indonesia tidak hanya menunjukkan kapasitas dan posisi strategisnya, hal ini juga digunakan untuk mendukung dan menegaskan poin yang berulang kali disebutkan mengenai ‘kedaulatan’ dan ‘perbatasan’. Tujuan ini sejalan dengan tiga prinsip dasar realisme, yaitu Statism, yang menyatakan bahwa negara adalah aktor utama dalam hubungan internasional, dan kedaulatan menandakan adanya suatu komunitas independen, yang memiliki otoritas yuridis atas suatu wilayah.[4] Selanjutnya survival, dimana tujuan utama setiap negara adalah mempertahankan keberlangsungan hidupnya[5], dimana keberlangsungan ini ditandai dengan kemampuan negara untuk mempertahankan otoritas nya atas suatu wilayah yang telah ditandai dengan batas-batas tertentu. Yang terakhir adalah  adalah self-help, dimana tidak ada institusi atau negara lain yang dapat diandalakan untuk menjamin keberlangsungan negara[6], oleh karena itu, dalam pembentukan identitas posos maritim dunia ini, Indonesia tidak melibatkan negara maupun intitusi lain di dalamnya. Hal yang menarik adalah bahkan prinsip dasar realisme ini telah menunjukan adanya keterkaitan dengan konstruktivisme, dimana konsep ‘negara’ itu sendiri sebenarnya adalah salah satu bentuk konstruksi, seperti apa yang disebut Benedict Anderson sebagai ‘imagined community’[7].  Dengan demikian, pembentukan identitas tidak hanya terjadi dalam level sistemik, tetapi juga dalam level negara, yang keduanya sama-sama bertujuan memperoleh power untuk tujuan yang sama.

Dalam hal ekonomi, pembentukan identitas sebagai poros maritim dunia tertuang dalam dua poin mengenai ‘membangun infrastruktur maritim’ dan ‘akselerasi pegembangan sumber daya maritim’. Pembentukan identitas sebagai poros maritim tidak hanya menunjukkan adanya ekstensifikasi dalam memaksimalkan territorial laut Indonesia, tetapi juga optimalisasi melalui intensifikasi pemanfaatan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, yang selama ini dianggap belum maksimal, dikarenakan identitas Indnesia saat ini yang lebih dikenal sebagai negara agraris. Kembali kita dapat melihat bahwa Indonesia berusaha meningkatkan kapabilitas ekonominya dengan memanfaatkan sumber daya alam laut dan memperbaharui teknologi dan infrastruktur yang berkaitan dengan kemaritiman, dimana hal ini diperoleh dengan membangun identitasnya sebagai negara maritim yang sempat ‘ditinggalkan’. Apa yang dikatakan A.M. Fachir berkaitan dengan ‘kita harus membangun kembali budaya kita, sudah terlalu lama kita memalingkan diri dari laut. Masyarakat harus menyadari dan memahami bahwa identitas, kesejahteraan, dan masa depan kita akan ditentukan oleh seberapa dalam hubungan kita dengan laut. Kita harus bisa mengulang kejayaan nenek moyang kita dahulu”.[8] Pernyataan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat ditentukan dengan identitas Indonesia sebagai negara maritim, yang belum terbangun saat ini. Pernyataan ini sejalan dengan definisi Alexander Wendt mengenai konstruktivisme sebagai ‘pembentukan ide, dan pemahaman serta pengetahuan berdasarkan konteks sosial dan historis[9], dimana hal ini dapat berubah sesuai konteks.

Terakhir dari sisi militer, Indonesia memanfaatkan identitas poros maritim ini sebagai justifikasi untuk meningkatkan kapabilitas militernya, seperti yang tertuang dalam poin ‘memperkuat keamanan maritim’. Dengan statusnya sebagai pusat dan tokoh dominan di perairan, Indonesia dituntut untuk memiliki kapabilitas yang mumpuni untuk menjaga tidak hanya keamanan wilayah perairannya, tetapi juga stabilitas kawasan secara umum. Untuk itu diperlukan adanya instrumen seperti kapal laut yang lebih modern, personil militer yang terlatih, dan perangkat keamanan lainnya. Gestur peningkatan kapabilitas militer sebagai betuk pengamanan wilayah dapat menghindarkan munculnya security dilemma, yang akan timbul jika hanya digunakan untuk mengamankan territorial internal.

Kesimpulan

Poros Maritim Dunia dapat dilihat sebagai konsep, ide, maupun identitas, yang dikonstruksikan oleh Indonesia, dengan tujuan meningkatkan kapabilitas/power Indonesia di berbagai dimensi. Pembentukan identitas ini merupakan perwujudan konkret dari constructive realism, yang akan menentukan political behavior Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri. Namun demikian, ide, konsep dan identitas ini bukanlah sesuatu yang ajeg, dan dapat berubah di masa depan, sesuai dengan kepentingan nasional yang ingin dicapai oleh Indonesia.

[1] A.M. Fachir. “Getting the Concept of Maritime Fulcrum”, dipresentasikan pada Seminar on Maritime and Foreign Policy, 11 Mei 2015.

[2] Ibid.

[3] Jae Wook Jung. 2013. “Making Constructive Realism?”.  The Korean Journal of International Studies, Vol.11. The Korean Association of International Studies. Hal. 1

[4] Tim Dunne dan Brian C. Schimdt, dalam John Baylis, Steve Smith, dan Patricia Owen. 2008. Globalization of World Politics. Oxford University Press. hal.100

[5] Ibid. hal.103

[6] Ibid.

[7] Pembahasan lebih lanjut dapat dilihat di ‘Imagined Communities: Reflection on The Origin and Spread of Nationalism. 2006. Verso

[8] A.M. Fachir. “Getting the Concept of Maritime Fulcrum”, dipresentasikan pada Seminar on Maritime and Foreign Policy, 11 Mei 2015.

[9] Alexander Wendt, “Anarchy Is What States Make of it: The Social Construction of Power Politics, “International Organizations 46-2 (1992), hal. 403-407

Advertisements

Jesus Dynasty and The Lost Gospel

It’s the title of my newest collection…

Thanks to Dan Brown, i’m now interested to deepen my understanding and knowledge of religion. I’m also start reading Koran translation (in a serious and analytic terms) which i havent’ done all these years…So, what will these book tell me?

 

Quote hari ini: “Many people try to change the world, but they forget to change themselves.” -Lord Acton-

Transformers and US’ Showcase

So, yesterday i went to the cinema, and watched one of the most anticipated movie this summer, Transformer: Dark of The Moon. Before we go to the ‘International Relations’ part, lets take our time to briefly review the movie itself first.

For a third sequel, i gave this 7 out of 10. It’s still have all the amazing elements of a movie, unfortunately we’ve seen it already in it’s two predecessor, so there’s no element of surprise anymore. Seriously, this is just same repeatable story with different robots. After three years, there’s really no improvement in here, story wise. We have an important item, which will bring us doom, if fall to Decepticon’s hand. In the first movie there’s the Cube or Allspark, the second movie has the Matrix of Leadership, and now we got the ‘Pillars’..and that’s that…

The second thing i want to speak of, is the inconsistency of ‘human role’ in this movie. In many part of the film, you’ll see human as no more than insects in front of  Cybertronian, the US army was nothing but bugging hornet. But, later in the scene, Sam managed to kill Starscream, Megatron can’t managed to pinched Carly, and Soundwave was destroyed by a bunch of M-16 and some grenade launceher?WTF?? This is what happened when you try to insert Human role in a used to be Robot Only saga….there’s just too many paradox..not to mention that Autobots was intended to protect humankind, but they killed and destroyed just as much as the Decepticon did in the process…

Next will be the main highlight of the movie….that’s right, it’s the replacement of the iconic Megan Fox, by Rosie Huntington Whiteley..Many people still vote for Fox as the main heroine..but i have different opinion. Physically speaking, there aren’t anything to compare between these ladies. Both of them are freaking HOT!! I mean like, super HOT…But, Rosie’s British accent has taken her further into the Sexy and Elegance department, and deeper into my heart :p, rather than Fox automotive knowledge..well, maybe that’s just me..but i still think that this is a perfect replacement..

Now..for some serious part…

It has came to my senses, that most animation adapted movie, were being used as US showcase, particularly on weapon development, or military prowess on a broader term. It’s almost ridiculous of how many times you’ll see the Star Spangled banner made appearance in the scenes.. Just like when they appear in Spiderman, or Iron Man, Or Superman, or many more…

They’ll always display US latest military technology in these movies, along with its lethal demonstration. Maybe you still remember the ‘corner gun’ used in RED and Wanted

Yups, it’s the gun where you can aim and shoot through a corner, without being exposed to the enemy. Its also comprised of Camera, screen, night vision, and a thermal lens…

And yesterday in Transformer, for the first time i saw the ‘squirrel suit’? That the NEST used to maneuvering around building , that’ll be a perfect tools to do a surprise attack on a hostile countries urban environment.

If you just pay more attention in another movie, you’ll see these similarities of technology show off, if not on military terms, it’ll be on IT realms…

Next element, which is a bit amusing, is where they also try to construct justification in their military intervention, by providing scene where autobots attack a middle east region, which also happened in the first two movies. And maybe you still remember who kidnapped Tony Stark on Iron Man? and which region did he attack on his first mission as Iron man? Yups, it’s always and always will be Middle East…..

Audience will surely get the message, that the only thing that can maintain peace in the world, is to have an invincible military force, and send them right away to eliminate any other military or insurgencies, or rebellion, worldwide. Just like as Tony Stark said, ‘we have successfully privatized world peace’. When the other countries are no match for US, then the’ll be too affraid to attack, hence, world peace is created. This is what we called as ‘mutual assured destruction’, though the US doesn’t seem to be influenced by this.

This movie is the reaction to the crumbling US unipolariry. The military superpower gained by US post Cold War has met its equal competitor nowadays, mainly coming from the EU and China, bringing this world to a more multipolar and regionally based competition. Worse, US realized that they’re walking towards  demise, seeing how the earth’s important mineral are gradually diminish, and China is the only one that can still produce it in the near future…and they refused to export it…That’s why they’re still trying to demonstrate their advances globally in a safer way, through their movies,to construct the and insert US’ might into our mind…But, unless Optimus Prime really decides to help US government, or NSA successfully made a contract with Tony Stark, US military as well as global superiority downfall  is a matter of time…

 

Quote hari ini: “If you want peace, be prepared for war” –Anthony Giddens

Pengaruh Penjajahan Jepang terhadap Konstruksi Sosok Hantu di Indonesia

Sounds like a skripsweet title isn’t it?.. Yupz, kali ini kita akan membahas sesuatu yang sangat saya benci, dan saya sukai pada saat bersamaan, yaitu hantu (benci) dan Sejarah jepang (suka). Di satu sisi, saya sangat sangat sangat sangat takut sama hantu, dan kawan2nya (yes, I’m a coward), meskipun saya belom pernah, pengennya sih ga pernah, ngeliat mereka. Di sisi lain, saya juga percaya bahwa hantu dan cerita yang mengikutinya, merupakan konstruksi manusia, yang sengaja dibentuk manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya untuk mengajarkan nilai moral dengan menakuti anak2 seperti ‘jangan keluar magrib2 nanti diculik wewe gombel” itu sebenarnya untuk mencegah anak2 keluar malam, karena bisa diambil penculik atau diserang hewan buas kan?.. ato untuk menyembunyikan kenyataan, seperti yang dilakukan oleh penjahat2 di Scooby doo yang menggunakan sosok hantu buat menakut nakuti dan menyamarkan kejahatan mereka. Yang jelas, saya tau bahwa cerita hantu berikut karakter2nya itu adalah rekaan manusia.

Oleh karena itu, kali ini saya akan mengupas mengenai pencitraan hantu di Indonesia, yang sebenarnya berakar dari para penajajah Jepang (menurut saya). Analisis berikut ini murni Hipotesa saya, jadi sangat disangsikan kebenarannya..hahahaha

Pernahkan kalian bertanya mengapa sosok hantu2 di Indonesia seperti ini? Jika dilakukan kuesioner, mungkin sosok yang paling sering muncul sebagai peran hantu adalah perempuan, baju putih, rambut panjang. Benar kan? Apakah anda pernah dengar teman anda yang menceritakan sebuah kisah hantu berkata “hantunya itu Cewe, rambutnya di coklat highlight, aga2 dilayer, terus pake overall jeans gitu” atau “pas gue noleh ke belakang, tiba2 ada cewe, rambutnya bob pake poni, pake tank top ama hotpants” atau “ ati2 lho, ntar pas naik motor, tiba2 ada cowo kekar pake baju fitness yang nebeng”..ga pernah. Sosok hantu secara general, selalu digambarkan dengan karakteristik cewe, rambut panjang (terurai), dan baju putih (biasanya dibayangkan sebagai dress panjang menutupi seluruh tubuh). Sosok inilah yang kemudian begitu berhasil dimanifestasikan oleh Suzanna dalam berbagai peran kuntilanak nya, dan kemudian dipermanis dalam film Si manis Jembatan Ancol oleh Diah Permatasari, dan berlanjut terus sampe sekarang, bahkan dalam film seks berbau horror yang sedang marak sekarang ini, sosok perempuan berambut panjang berbaju putih ini hampir tidak pernah absen di judul2 yang beredar.

Awalnya sih ga ada maslaha dengan itu, Cuma saya jadi bertanya, kenapa harus seperti itu sosok hantu di Indonesia? Dari mana asalnya? Jelas hantu ini bukan impor dari Barat, karena di sana yang muncul adalah hantu2 semacam werewolf, ampire, gargoyle, dll. Film2 horror barat tidak menampilkan wanita berbaju putih rambut panjang di dalamnya. Pertanyaan saya ini mulai terjawab saat saya menonton film The Ring dengan tokoh utama siapa lagi kalu bukan Sadako. Sadako memiliki penampilan yang tidak asing lagi buat kita pemirsa Indonesia, dengan rambut hitam panjang dan baju putihnya. Tetapi ini merupakan sesuatu yang baru dan mengerikan bagi masyarakat barat, sehingga dibuat remakenya. Saya sempat berpikir, jangan2 orang jepang terinspirasi film horror Indonesia..tapi kayanya ga mungkin…Saya baru mendapat jawaban pas main game Persona 4, dan ngelawan Musuh terakhir di game itu, yang digambarkan sebagai wanita berambut panjang berbaju putih…dan ternyata dia adalah…Izanami!!!

Buat sebagian besar dari kita, Izanami mungkin adalah nama yang terdengar asing, tapi bagi orang Jepang dan orang yang menggemari kebudayaan Jepang, Izanami pastilah pernah mampir di telinga kami. Izanami, bersama dengan Izanagi yang tidak lain adalah suaminya, merupakan dua dewa yang menciptakan Jepang. Izanagi akan menusukkan tombak miliknya ke laut sesuai dengan komando Izanami  dan setelah tombak itu diangkat, maka tetesan air dari tombak itu berubah jadi salah satu pulau Jepang. Saya inget pas pertama kali baca artikel mengenai mereka, dua dewa ini digambarkan memiliki rambut panjang (meskipun Izanagi itu laki2), dan berbaju kain putih.

Berikut adalah beberapa image Izanami yang baru aja saya googling

Setelah menciptakan Jepang, Izanami kemudian melahirkan Dewa-dewi yang memiliki tugas berbeda-beda, tetapi saat melahirkan Kagutsuchi si Dewa Api, Izanami mati terbakar, dan dikirim ke Yomi (underworld). Izanagi kemudian memutuskan untuk menyusul istrinya, tetapi saat sampe di Yomi, yang dilihat Izanagi adalah sosok Izanami yang udah hangus dan membusuk akibat pengaruh Yomi. Izanagi kemudian lari, tetapi dikejar oleh Izanami yang marah dan kecewa…Saat sampe di Yomotsu Hirasaka atau gerbang menuju Yomi, Izanami berteriak pada Izanagi, “Aku akan membunuh 1000 (ato 100 ya) manusia setiap harinya!” lalu Izanagi membalas “Kalau begitu aku akan menciptakan 1500 manusia setiap hari” sambil menutup germang Yomotsu Hirasaka. Janji ‘cinta’?!?!? keduanya inilah yang menjadi cikal bakal siklus hidup mati manusia di bumi.

Izanami di Persona 4

Izanami pasca Yomi, versi Persona 4

Karena Izanami dan Izanagi adalah dua tokoh paling awal dalam sejarah Jepang, maka saya mengambil kesimpulan bahwa Orang2 Jepang yang pertama kali mencoba mengkonstruksikan sosok menyeramkan, menggunakan Izanami sebagai ‘model’nya. Entah siapa yang memulainya, tetapi Izanami telah berhasil menempati klasemen teratas sebagai sosok menyeramkan. Dari prototype inilah lahir Sadako, ibunya Toshio, dan kawan-kawan..Lalu apa hubungannya dengan hantu Indonesia? Lagi2 saya mengambil kesimpulan sendiri, bahwa sosok hantu ini juga disebarkan di Indonesia, entah bagaimana caranya, saat jepang sedang menjajah Indonesia mulai tahun 1941-1945. Kita belum pernah denger ada Kuntilanak di zaman majapahit kan? Ato saat masa Taruma Negara? Itu karena Jepang belum membawa konstruksi hantu itu ke Indonesia.

Saya punya beberapa fakta yang memperkuat dugaan ini. Yang pertama, baik Izanami, sadako, maupun kuntilanak, ketigan2nya dikecewakan oleh laki2. Izanami oleh Izanagi, Sadako oleh ayahnya, Kuntilanak biasanya korban perkosaan (yang saya liat di film Suzanna) ato disiksa warga yang mayoritas laki2 (yang saya liat di Film Suster Keramas) ato ditinggal pergi oleh orang yang menghamilinya sampe dia disiksa warga (film suster keramas juga) (satu2nya film seks berbau horror yang pernah saya tonton emang Cuma suster keramas, and it sucks). Mungkin itulah salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh konstruksi ini.

Yang kedua, Kuntil anak ato Sundel Bolong mati setelah melahirkan anaknya kan?…does it remind you of something?…yak, ini sama seperti izanami yang mati setelah melahirkan Kagutsuchi..

Yang ketiga, kenapa Kuntilanak versi Suzanna, juga versi Srimulat, dan beberapa versi lain digambarkan dengan dandanan Muka putih berbedak tebal dan lingkaran hitam di mata seperti eye shadow yang berlebihan? Itu mungkin terinspirasi dari penggambaran Izanami saat dipentaskan dalam Kabuki. Kabuki adalah pementasan musical tradisional Jepang, yang pemeran2nya memang menggunakan dandanan bedak tebal sehingga muka pemainnya putih seperti tembok, dengan daerah sekitar mata yang diwarnai. Di Indonesia, pewarnaan mata diubah menjadi hitam, mungkin untuk memperseram, ato make-up artis jaman dulu ga mau repot..hehe..Penampilan lain dari Kuntilanak atau sundel bolong adalah wajah yang rusak, mengelupas, kemerahan sampe menunjukkan daging, bahkan tengkorank dalam. Penampilan ini diambil dari penampilan Izanami saat telah terbakar dan membusuk di Yomi tentu saja..

Kira2 segitu kesimpulan yang bisa saya kemukakan, ga ada bukti otentik yang membenarkan memang, tapi ga ada bukti yang menyangkal juga…so, masih takut hantu wanita berambut panjang berbaju putih?… I am….

Quote hari ini: “All change is not growth, as all movement is not forward.” -Ellen Glasgow-

Cross my Heart…

Yeaaaay…lagi2 saya akan menambahkan rubrik baru di supercalifragilisticexpialidocious…kali ini, terinspirasi dari session “kelirumologi” milik Pramuaji, yang ternyata nama aslinya adalah Pramono (in case selama ini kalian mengenalnya sebagai Pramuaji)…Link ke blog miliknya bisa dilihat di post ‘award’ di bawah ini. Saat membaca post2 nya, saya inget bahwa saya juga telah menyadari beberapa kelirumologi yang ada di sekitar kita, dan di blog ini, rubrik ini akan ditempatkan di bawah tag Constructivism, perspektif andalan saya.

Kata pertama yang akan kita bahas adalah ini

Di Indonesia ini,dua sebutan paling populer yang ditujukan untuk gambar ini, adalah hati dan lope lope (derivasi ngasal dari kata love). Lambang ini dimanfaatkan orang2 untuk mengunkapkan kasih sayang, cinta, dan hal2 manis lainnya. Terlepas dari itu semua, orang2 Indonesia memahami betul bahwa ini adalah gambar hati…..Keliru!!!! (mengutip kata2 khas ajay)…hmm…kasian juga ya kalo saya pake istilahnya Ajay terus, saya pake slogan sendiri deh, Metanaratif!!!!(metanaratif adalah sesuatu yang salah, tetapo dilakukan berulang ulang, sehingga jadi kebenaran. (Wawan Budi darmawan, 4 taun lalu di perkuliahan Pengantar Ilmu Politik)

Di bahasa Inggris, lambang tersebut disebut Heart, yang mengacu pada salah satu organ terpenting manusia, yaitu JANTUNG . Sedangkan untuk mendeskripsikan hati, maka kata yang akan digunakan adalah LIVER. Lambang di atas merupakan penyederhanaan dari bentuk jantung yang sesungguhnya…

Jantung manusia

buat yang belum percaya, coba pisahkan gambar “lope2” di atas menjadi empat bagian, maka akan terlihat jelas bahwa gambar itu mendeskripsikan Jantung, bukan Hati.

Inget pelajaran SD ini kan?....

Sedangkan bentuk hati yang benar adalah seperti ini:

Entah sejak kapan, di negara ini, hati dan jantung mulai tertukar, dan tidak ada yang mau membenarkannya…contoh kesalahan2 yang dibuat adalah:

  1. Saya sering liat film asing, saat di dalam suatu adegan muncul percakapan “Don’t you have a heart?” maka tim penerjemah akan membubuhkan subtitle “apakah kamu tidak punya hati?”
  2. Ribuan teks lagu romantis, pasti memiliki kata heart di dalamnya, seperti “you’ll be in my heart” “my heart will go on” “fixing a broken heart” yang diartikan oleh para pendengarnya di Indonesia menjadi “Kau akan ada di hatiku” “hatiku akan terus melangkah” dan “memperbaiki hati yang rusak”
  3. Sedangkan dalam lirik lagu2 Indonesia, hati akan digambarkan sebagai suatu organ yang dapat menampung perasaan cinta, kasih sayang, dan hal2 romantis lain, seperti “hatiku hanya untukmu” “jaga selalu hatimu” “jangan sakiti hatiku” dan banyak lagi…Metanaratif!! Fungsi hati adalah mencuci darah, dan membuang zat2 beracun dalam darah…fungsi2 romantis di atas ditujukan pada jantung…pada Heart, bukan liver….
  4. Sejak awal saya mengenal permainan Remi, kartu ini

selalu disebut As HATI, sedangkan kita tahu bahwa nama resmi kartu ini adalah Ace of Hearts, dan hearts adalah jantung. tetapi semua orang tidak peduli, dan tetap menamakannya As Hati…jika kalian tetap teguh dan tidak ingin mengubah sebutannya menjadi As Jantung, maka kalian harus merubah desain kartu menjadi seperti ini

Desain As Hati yang tepat (yeah, my drawing is sucks)

Di berbagai adegan film, bahkan di kehidupan nyata, saat berkata ‘negara ini selalu ada di hatiku misalnya’, orang yang bicara tersebut akan menggerakkan tangannya ke arah lambang garuda yang ada di dada kanan. Hellooo!!!!! letak hati itu ada di sekitar perut, yang kalian tunjuk itu adalah Jantung!!!!!!

satu2nya penggunaan kata heart yang tepat adalah’Heart attack’ yang masih diartikan sebagai serangan jantung, bukan serangan hati…(dan entah kenapa mereka tidak mau mengubah pendapat mereka di istilah2 lain)

So Please, jangan pernah keliru lagi mengartikan kata heart, dan jangan keliru dalam melakukan gesture2 dan gimmick berkaitan dengan jantung dan hati….

Quote hari ini: “The way is not in the sky. The way is in the heart.” -Buddha-